Sudah 20 Bulan, Kok Belum Bicara?

357 views

Sejak hamil, janin saya dinyatakan sehat. Ketika lahir, Menik mendapat nilai APGAR 9/10. Perkembangan fisik, motorik halus dan kasar semua berjalan sesuai dengan KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan) yang saya pegang.

Satu hal yang menjadi fokus saya adalah perkembangan bahasa Menik. Khawatir sedikit karena Menik belum mengeluarkan satu kata yang jelas hingga usia 15 bulan, namun karena DSA-nya bilang masih bisa diberi waktu hingga usia 21 bulan, maka berkuranglah si rasa deg-degan. Kata DSAnya, ini ibarat tanggul, kalau nanti jebol, pasti langsung byaarrr! banyak yang keluar. Tapi namanya emak-emak pressure memang tidak bisa dibendung, ya! Ada satu teman saya yang anaknya sudah bicara sejak usia 13 bulan, dan memasuki usia 14 bulan, anaknya sudah memiliki lebih dari 30 kosakata. Ada lagi anak teman yang seumuran, sudah bisa menyambung suku kata yang diberikan ibunya. Belum lagi tekanan seperti “ibunya kan cerewet, dulu penyiar, masa anaknya belum bicara..” I was like, Helloo?! 🙁

Akhirnya, saya mulai Googling soal speech delay, awalnya saya seperti berada di grey area, kalau lihat di tanda-tanda perkembangan bahasa rasanya tidak perlu khawatir, tapi kenapa tidak ada kata yang jelas yang keluar dari mulut si bayi yang sebentar lagi masuk usia 21 bulan ini? Takut diri saya in denial, akhirnya saya mulai mencari literatur mengenai keterlambatan bicara pada anak. Kenapa tidak langsung ketemu dokter? Ya karena itu tadi, dokter anak Menik bilang, jangan terlalu khawatir, apalagi ketika terakhir bertemu, Menik sangat komunikatif. Di Baby Center, Suniah Shah, seorang pediatric speech and language specialist, mengatakan memang seharusnya di usia 18 bulan, bayi sudah bisa mengeluarkan satu atau dua kata dengan jelas dan berarti. NAMUN, let me bold the BUT word here, ada juga kemungkinan sebetulnya perkembangan bahasa anak normal, dengan memperhatikan beberapa tanda, seperti:

Anak mengerti perintah dengan baik. Misalnya saya minta tolong untuk mengambilkan remote, maka dengan cepat, Menik akan mengambilkan remote dan mengantarnya.

Anak mengerti banyak kata tunggal atau bahkan kalimat, dan ia berusaha untuk meniru berbicara atau dengan gesture tubuh. Misalnya saya bilang “Terimakasih”, maka Menik akan melipat tangan dan menundukkan tubuh, sesuai dengan apa yang saya contohkan selama ini. Atau kalau saya bilang “Saatnya Menik makan”, maka Menik akan duduk di kursinya dan bilang “mamam..mamam!”

Ketika anak mengingkan sesuatu, maka ia akan menunjuk ke hal tersebut.

Anak akan sering bilang “tidak” untuk menunjukkan kemandirian dan ketidaksukaan terhadap sesuatu.

Saat sedang dibacakan buku, atau berjalan-jalan, kalau kita menyebut kata, anak akan menunjuk ke hal tersebut. Ini tanda, anak sudah mengenali dan mengetahui nama benda tersebut.

Anak suka seolah-olah membaca buku, padahal yang terdengar adalah bahasa planetnya, atau berbicara sendiri ketika bermain, itu juga dengan bahasa planetnya. Biasanya akan terdengan nada mengalun karena anak meniru nada bicara kita.

Kalau melihat semua tanda di atas, Menik memang tidak ada masalah. Semuanya ada pada Menik. Artinya saya tidak perlu khawatir, dong! Tapi kan tidak ada kata (yang menurut saya) jelas keluar dari mulut Menik. Beberapa kali saya curhat ke teman saya yang juga seorang psikolog, takut kalau Menik mungkin terkena sindrom autis atau mungkin ada gangguan perkembangan lainnya. Ia menjawab dengan santai “Ki, setiap anak itu adalah individu yang berbeda, lo santai tapi tetap perhatikan dengan baik tumbuh kembang si Menik.” Jawaban ‘standar’ ini memang menenangkan, tapi ya, itu tadi, peer presure tidak bisa dihindari.

Beruntung saya sempat ikut seminar Joy of Learning yang diadakan oleh Fisher Price. Chief Mum, Carry Lupoli bilang bahwa mendokumentasikan perkembangan anak di masa emasnya adalah penting agar kita bisa memantau perkembangan anak. Saya termasuk orang yang hobi merekam Menik, dan akhirnya saya bisa menulis perkembangan bahasa Menik yang selama ini luput. Iya, kan kalau hanya diamati sehari-hari, rasanya si Menik hanya bicara bahasa planet tanpa arti.

Ini yang berhasil saya runut soal perkembangan bahasa si bayi yang lahir tanggal 17 Oktober 2011:

Usia 7 bulan bicara “ba ba.. bababa..”

Usia 9 bulan bicara “ma.. ma.. da.. da.. ta.. ta..”

Usia 13 bulan bicara “Yaahh..yaah”

Usia 15 bulan bicara “na.. na..” dan “Mama!”

Usia 20 bulan mulai banyak, nih! Mulai dari : Ndak, Bu, Yes, No, Udah, Duduk, Susu, Ayah, Mama, Bapak, Barney, Cicak, dan mulai menirukan suara hewan seperti “cuit cuit” untuk burung, “mo mooo” untuk sapi, dan “huk” untuk anjing.

Baru segitu tapi harusnya saya sudah boleh bernafas sedikit lega ya, karena mulai banyak, nih, yang keluar walau baru kata-kata tunggal. Hampir semua referensi bilang saya harus rajin mengajak bicara dan mengulangi kata yang ia keluarkan. Misalnya Menik bilang “Wooohh” sambil pura-pura telpon, maka saya harus menyambut dengan “Iya, Menik bilang HALO kalau lagi telpon, ya”.

In the end, emak-emak pressure memang terkadang membawa kegalauan soal tumbuh kembang anak. Tapi jangan kelamaan galau, ya. Mendingan energinya dipakai untuk mencari tahu kebenenaran soal hal yang bikin galau. Oh ya, jangan lupa, jika anak belajar lebih dari satu bahasa, ada kemungkinan anak akan bingung, jadi lebih baik fokus di satu bahasa dulu, bahasa ibu. Dalam hal gangguan tumbuh kembang bahasa, yang perlu diperhatikan adalah jika sudah masuk usia 18 bulan, anak belum bisa mengerti perintah sederhana, tidak menoleh jika dipanggil namanya, atau tidak fokus jika sedang diajak melakukan suatu aktivitas, baiknya berkonsultasi dengan dokter anak dan ahli tumbuh kembang.

Baiklah, saya mau ngajak Menik ngobrol dulu, ya! 🙂

Tags: #kesehatan anak