Ustad Yusuf Mansur Ibaratkan Hoaks seperti Pupuk

277 views

Pendakwah kondang, Ustad Yusuf Mansur berbicara tentang hoaks atau kabar bohong. Yusuf Mansur yang pernah diserang hoaks meninggal dunia mengaku sangat menikmati kabar bohong tersebut.

Ustad Yusuf Mansur mengatakannya dalam Peringatan Hari Santri bertajuk Dakwah Moderasi Beragama di Medsos: Upaya Merawat Demokrasi di Masa Pandemi. Dakwah Yusuf Mansur ini sudah dipublikasikan di channel YouTube, NU Channel pada 19 Oktober 2020. Bahkan, Yusuf Mansur menyebut hoaks sebagai pupuk, meski menjijikan dan kotor tapi bisa menumbuhkan.

“Saya menikmati hoaks, itu asik. Perspektif saya, hoaks itu seperti pupuk. Pupuk itu memang bau, jijik, dan kotor. Anggap saja itu ujian Allah dari mulut orang,” katanya.

Oleh karena hoaks ibarat pupuk, maka ia bersyukur karena dapat menumbuhkan dan membesarkan pohon sehingga menghasilkan buah yang baik. Yusuf Mansur merasa hoaks sebagai ujian dari Allah.

“Yang kita kasihani adalah orang itu dijadikan Allah untuk menguji kita. Jadi, kita perlu pupuk itu untuk membesarkan pohon, merimbunkan, membanyakkan buah kalau pupuk itu dikirim sama Allah,” ujar Yusuf Mansur. Dalam dakwahnya, Yusuf Mansur mengaku sudah sering mendapat fitnah dan caci maki dari banyak pihak. Namun, dia tidak pernah marah dan selalu menganggapnya sebagai ujian.

“Ketika di tahun 1997 melek tentang fitnah dan makian, pada akhirnya memang benar tidak ada yang tidak baik. Itu semua dari Allah,” ucapnya.

Lebih lanjut, Yusuf Mansur juga banyak belajar dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) yang terlihat santai, meski sering mendapat banyak fitnah.

“Kalau belajar (menghadapi hoaks), saya pribadi belajar dari Presiden Pak Jokowi. Dia anteng saja, slow saja, luar biasa. Saya mengikutinya (hoaks tentang Jokowi),” kata Yusuf Mansur.

Selanjutnya, dia mengutip Al-Quran, surat Qaf ayat 39 bahwa Allah menyuruh manusia untuk bersabar terhadap segala sesuatu yang dikatakan orang lain. Selain itu, dinyatakan pula dalam ayat itu untuk senantiasa bertasbih seraya memuji nama Tuhan, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya.

“Jadi tidak usah pusing. Terus apa yang harus kita lakukan? Menangkis? Tidak ada tuh kalimat seperti itu. Kita hanya disuruh untuk bertasbih memuji Allah. Artinya, kita sucikan bahwa tidak ada kejelekan kecuali memang Allah yang menghendaki kejelekan itu,” ujar cicit Tokoh Ulama Betawi Guru Muhammad Mansur ini. Sumber : liputan6

Tags: #Kesehatan